Wednesday, March 4, 2015

Cerpen : Ayam Rambo



Suatu ketika di lapangan desa, tempat dimana masyarakat mengadu ayam terlihat seorang pemuda yang begitu kesal. Sebut saja Asman, ia seakan tak terima terhadap apa yang ia alami. Asman ini adalah pemilik ayam aduan baru saja dikalahkan oleh ayam milik seorang tua bernama Pak Tarno. Merasa tak terima akhirnya Asman pergi ke pasar, Tujuannya adalah untuk membeli ayam yang lebih tangguh agar dapat mengalahkan ayam milik pak Tarno. 

Di ujung sebuah pasar yang ramai ia menemui seorang penjual ayam jago. Dari kejauhan ayam-ayam yang ditawarkan ini terlihat menarik, gagah, dan kuat seperti Rambo dalam sebuah film perang. Tanpa ragu-ragu Asman menghampiri penjual ayam tersebut.

            “Ayam Jagonya di jual bang ?”
            “Iya, ini ayam Rambo. Ayam tentara bos”.
            “Sudah berapa kali di adu bang ?”. Tanya Asman meyakinkan dirinya.
            “Berkali-kali bos, dan gak pernah kalah”.
            Asman mulai tertarik dengan promosi dari penjual ayam tersebut.
            “Berapa harga bang ?”.
            “500 ribu saja diskon 5 %”.
            “Tambahin lah diskonnya ?”.
            “Yaudah 6 %”.
            “Yeee... nambah dikit”.

Karena merasa sangat butuh Asman tidak banyak menawar kembali dan langsung membelinya. 

            “Tapi benerkan ini ayam belum pernah kalah”. Tanya Asman meyakinkan
            “Bener... udah yakinlah”. Sanggah sang penjual.

Kali ini Asman kembali ke lapangan. Ia merasa yakin, kali ini ia ayam rambo yang ia bawa akan mampu mengalahkan ayam milik pak Tarno. Menurut si penjual tadi ayam ini belum pernah kalah dalam pertarungannya. Semakin dekat dengan arena gladiator semakin sombong pula langkah si Asman. Apapun yang akan terjadi kali ini Ia semakin yakin ayamnya akan menang.

Akhirnya sampailah Asman pada arena pertarungan. Dengan berani Ia kembali menantang Pak Tarno untuk beradu ayam. Kini masing-masing pemilik ayam telah berhadapan dan dengan hati-hati kedua ayam dilepas kan dalam arena. Kedua ayam beradu dengan hebat.

Tapi apa yang terjadi ? diluar dugaan ternyata ayam rambo yang dimiliki Asman kalah telak seakan tak berdaya melawan Ayam Pak Tarno. Dengan perasaan marah karena telah ditipu oleh si Penjual ayam, Asman pun kembali ke Pasar dan menemui si Penjual Ayam tadi.

            “Dasar pembohong !! kau bilang ini ayam rambo, menang terus, gak pernah kalah tapi mana buktinya ? baru diadu dikit aja udah sempoyongan gak ada tenaganya”. Umpat Asman pada penjual ayam
            “Tenang dulu bos.. Santai-santai. Ente adu ayam sama siapa ?”. tanya si Penjual Ayam.
            “Sama pak Tarno”.
            “Oh.... sama pak Tarno yang rumahnya di ujung jalan deket sawah itu ?”.
            “Iya itu”.
            “Pantes aja”.
            “Kok bisa ?”. Tanya Asman penasaran.
            “Ini ayam sebenernya gak kalah. Dia Cuma ngalah aja”.
            “Kenapa bisa gitu ?”
           “Ya iya lah.... rambo itu anaknya ayam milik pak Tarno. Jadi ya wajar aja kalo kalah. Anak kan harus hormat sama orangtua”.
            “Oh.. gitu ya ?”
            “Iya”.


No comments:

Post a Comment